Pemulihan Konektivitas Jalan dan Jembatan, BPJN Aceh Kerahkan Ratusan Alat Berat

News

Koranpotensi  – Banda Aceh

Dalam rangka pemulihan konektivitas dan untuk mendukung penanganan darurat, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh telah mengerahkan 259 unit alat berat, terdiri dari 64 ekskavator, sebanyak 29 wheel loader, kemudian 16 motor grader, tujuh vibro roller, sebanyak 115 dump truck, serta alat pendukung lainnya yang tersebar di lintas timur, lintas barat, dan lintas tengah.

“Alat berat itu saya rasa sudah memadai karena memang kita bekerja tidak bisa paralel karena memang harus membuka akses awalnya dulu, baru kita bisa menangani titik longsor yang untuk selanjutnya dan pada saat ini untuk pembukaan atau penanganan jalan maupun jembatan yang terputus. Kita sudah mengidentifikasi untuk kebutuhan jembatan dan itu semuanya telah tersedia,” kata Kepala Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) BPJN Aceh, Fikri di Banda Aceh, selasa (16/12/2025).

Fikri menuturkan, bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menyebabkan 16 unit jembatan putus, sebanyak 171 titik longsor, serta 33 badan jalan terputus atau hilang. Selain itu, tercatat 37 titik banjir. “Untuk jembatan yang putus, salah satunya di Krueng Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, sudah kembali fungsional sejak 12 Desember 2025 kemarin,” ujarnya.

Sementara itu, satu jembatan lainnya yang putus berada di Krueng Tingkem di Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Saat ini, BPJN Aceh bersama TNI tengah memasang jembatan sementara Bailey di jalur alternatif Awet Geutah. Proses pemasangan lantai jembatan dan akses masuk sedang berlangsung dan ditargetkan selesai pada 18 Desember 2025, sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat.

Fikri menjelaskan, lintas tengah Aceh menjadi wilayah dengan dampak terparah akibat bencana. Terutama akses menuju Takengon, Aceh Tengah, baik dari lintas timur maupun lintas barat yang sempat terputus. Namun, Satker P2JN BPJN sedang menyelesaikan satu jembatan di Teupin Mane, ruas Bireuen–Takengon, yang telah beroperasi sejak 15 Desember 2025. Jembatan tersebut dapat dilalui roda empat.

“Ada tujuh unit jembatan lagi yang terputus dan itu belum bisa diakses. Kemudian untuk titik-titik longsor dari 171 sudah ditangani sebanyak 68 titik, dan 103 titik belum penaganan karena memang titik longsornya itu berurutan. Jadi kita harus menangani dari awal titik longsor, setelah itu kita bisa mengakses ke depannya,” ucapnya.

Menurut Fikri, pihaknya juga mencatat kondisi medan di lintas tengah cukup berat karena berada di kawasan pegunungan. Banyak badan jalan yang longsor ke arah lereng, sehingga penanganan membutuhkan relokasi badan jalan dan waktu yang lebih lama, ditambah faktor cuaca yang masih sering diguyur hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *